Penulis : Nikolaus Rendi P. Hadi, S.Hum., M.Hum., Gr. , Sintaria Kusumaningrum, S.Hum., Gr.
ISBN : –
Buku yang tidak sempurna dan mungkin akan menimbulkan penyangkalan serta kontroversi ini disusun berdasarkan proses yang cukup panjang. Jika dihitung dari ide awal, diskusi-diskusi, pengumpulan teori, pengumpulan data, sampai penyusunan / pengetikan, buku ini memakan waktu dari 2017 hingga 2026. Judul “Apakah Ada Bahasa Jawa Dialek Semarang?: Tinjauan Dialektometri” ini berawal dari keprihatinan penulis mengenai terkikisnya penggunaan bahasa Jawa di masyarakat. Keprihatinan tersebut dituangkan dalam sebuah opini penulis berjudul “Mempertahankan Eksistensi Bahasa Jawa” yang dimuat dalam harian Tribun Jateng 18 Maret 2018 yang juga dimuat dalam buku ini sebagai prolog.
Flasback ke tahun sebelumnya, penulis mengumpulkan berbagai teori tentang dialektologi dengan pendekatan dialektometri dan melakukan riset mengenai variasi kosakata bahasa Jawa berjudul “Pemetaan Perbedaan Wicara di Kabupaten Wonogiri: Kajian Dialektologi” yang dimuat dalam Jurnal Perspektif Pendidikan vol. 3 no. 2 tahun 2017 terbitan Dinas Pendidikan Kota Semarang. Keunikan kosakata yang dimiliki penutur bahasa Jawa Wonogiri menunjukkan bahwa berdasarkan penghitungan dialektometri, ternyata kosakata khas Wonogiri tersebut hanya dikategorikan beda wicara. Memang, kalau diinderai secara sekilas, Wonogiri tidak mungkin memiliki dialek tersendiri karena secara historis merupakan daerah Mangkunegaran, salah satu kiblat budaya dan bahasa Jawa.
Pada 2025, penulis juga menerbitkan penelitiannya bertajuk “Dialect Geography of Javanese in Wonogiri Regency” yang dimuat dalam Jurnal Culture Unaki vol. 12 no. 1 Mei 2025. Satu tulisan opini dan dua artikel ilmiah tersebut memantik pertanyaan, “Apakah Semarang memiliki dialek bahasa Jawa tersendiri?” Penulis tertarik dengan kota tersebut karena beberapa alasan. Semarang memiliki sejarah panjang pra dan pascakemerdekaan RI. Semarang juga merupakan pintu gerbang Jawa Tengah, sekaligus ibukota provinsi. Selama ini, asumsi masyarakat memang menjawab “Ya, memiliki dialek tersendiri karena kosakata khas Semarang sangat banyak.” Bahkan, di luar asumsi yang belum terbukti keilmiahannya tersebut− beberapa tokoh linguistik pun juga mengatakan bahwa Semarang memiliki dialek tersendiri.
Hal tersebut diuraikan dalam bab-bab awal buku ini. Lalu apa perlunya menguji asumsi publik awam/nonlinguis dan pendapat para ahli tersebut? Sangat perlu! Dialek tidak bisa dipahami sebatas definisi dalam KBBI sebagai “variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu)”. Menurut hemat penulis, dialek harus dimaknai secara mendalam dengan penghitungan pasti, yaitu kuantitatif. Caranya adalah dengan penghitungan dialektometri. Bab 6, 7, dan 8 buku ini mengupas seluk beluk dialektologi, dialektometri, dan hasil penghitungan yang menunjukkan bahwa bahasa Jawa Semarang bukanlah dialek tersendiri, masih merupakan bagian dialek standar Solo-Yogyakarta. Persentase perbedaan antara kosakata bahasa Jawa Semarang vs bahasa Jawa standar hanya sebesar 11% untuk kategori leksikon dan sebesar 3% untuk kategori fonologi. Sangat jauh untuk dikatakan memiliki dialek tersendiri.
Sekali lagi, penulis menekankan bahwa tulisan ini adalah salah satu bentuk kajian, jawaban atas hipotesis, dan tidak mengklaim sebagai kebenaran tunggal yang mutlak. Penulis sangat menghargai semua sumber dan teori lain yang berseberangan dengan setiap tesis dalam tulisan ini. Mari rayakan serta lestarikan kekayaan dan keberagaman bahasa Jawa! Akhirnya, penulis ucapkan selamat menikmati buku yang tidak sempurna ini kepada segenap pembaca.
Category : sosial & Humaniora